HADITS SABAR BAG 3

وعن أبي عبد الله خباب بن الأرت رضي الله عنه قال شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو متوسد بردة له في ظل الكعبة فقلنا ألا تستنصر لنا ألا تدعو لنا فقال قد كان من قبلكم يؤخذ الرجل فيحفر له في الأرض في جعل فيها ثم يؤتى بالمنشار فيوضع على رأسه فيجعل نصفين ويمشط بأمشاط الحديد ما دون لحمه وعظمه ما يصده ذلك عن دينه والله ليتمن الله هذا الأمر حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت لا يخاف إلا الله والذئب على غنمه ولكنكم تستعجلون رواه البخاري وفي رواية وهو متوسد بردة وقد لقينا من المشركين شدة

Abu Abdillah, Khabbab bin Aratt r.a., berkata, “Aku mengadu kepada Rasulullah saw. yang sedang duduk bersandar di naungan Ka’bah, ‘Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak memohon pertolongan untuk kita. Mengapa engkau tidak berdoa untuk kita?’

Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya, ada satu kaum yang pernah hidup sebelum kalian. Seorang laki-laki dari mereka ditangkap, dimasukkan ke dalam tanah yang telah digali, lalu ia digergaji dari arah kepalanya hingga terbelah menjadi dua. Seorang lagi ditangkap. Kepalanya disisir dengan sisir besi hingga terkelupas kulit dan dagingnya. Semua itu tidak menjadikan mereka meninggalkan agama mereka. Demi Allah, Allah akan menyempurnakan perkara (agama) ini hingga orang yang bepergian dari Shan’a ke Hadramaut tidak merasa takut, kecuali kepada Allah. Mereka juga tidak takut kambingnya akan dimakan serigala. Akan tetapi, kalian terburu-buru.’” (Bukhari)

Di dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau sedang duduk dengan memakai selendang jubah. Saat itu, kami sedang mengalami siksaan dari orang-orang musyrik.”

Pelajaran dari Hadits

  1. Bersabar saat menghadapi siksaan untuk mempertahankan aqidah adalah sikap yang terpuji.
  2. Tersebarnya Islam, ketenteraman, dan kedamaian adalah bukti-bukti tanda-tanda kenabian.
  3. Hadits ini menjadi bukti kesabaran para sahabat dalam menghadapi siksaan untuk mempertahankan aqidah mereka. Mereka menyampaikan keluhan mereka kepada Rasulullah saw. karena mereka melihat bahwa kedamaian akan memberikan ketenangan saat beribadah kepada Allah swt.
  4. Kesabaran orang-orang shalih terdahulu harus dicontoh, saat mereka menghadapi cobaan.
  5. Permusuhan yang dilancarkan terhadap kebenaran sudah ada sejak dahulu. Oleh karena itu, orang-orang beriman yang hidup di setiap zaman harus bersabar menghadapi berbagai ujian dan serangan yang dilancarkan musuh.
  6. Islam adalah agama ketenteraman dan kedamaian.

 

18).

وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال لما كان يوم حنين آثر رسول الله صلى الله عليه وسلم ناسا في القسمة فأعطى الأقرع بن حابس مائة من الإبل وأعطى عيينة بن حصن مثل ذلك وأعطى ناسا من أشراف العرب وآثرهم يومئذ في القسمة فقال رجل والله إن هذه قسمة ما عدل فيها وما أريد فيها وجه الله فقلت والله لأخبرن رسول الله صلى الله عليه وسلم فأتيته فأخبرته بما قال فتغير وجهه حتى كان كالصرف ثم قال فمن يعدل إذا لم يعدل الله ورسوله ثم قال يرحم الله موسى قد أوذي بأكثر من هذا فصبر فقلت لا جرم لا أرفع إليه بعدها حديثا متفق عليه وقوله كالصرف هو بكسر الصاد المهملة وهو صبغ أحمر

Ibnu Mas’ud r.a. berkata, “Pada Perang Hunain, Rasulullah mengutamakan sebagian orang saat harta pampasan perang dibagikan. Aqra’ bin Habis diberi seratus unta. Uyainah bin Hishn pun diberi seratus unta. Sejumlah tokoh Arab juga mendapatkan bagian dan didahulukan oleh Rasulullah SAW.

Seorang laki-laki[1] berkata, ‘Demi Allah, pembagian ini tidak adil, dan bukan untuk mencari ridha Allah.’

Aku berkata, ‘Akan kuberi tahu Rasulullah.’ Lalu, aku pergi menemui Rasulullah SAW., dan kuadukan ucapan orang itu kepada beliau. Ketika mendengar ceritaku, wajah Rasulullah menjadi merah. Beliau bersabda, ‘Jika Allah dan Rasul-Nya tidak berlaku adil, lalu siapa yang akan berlaku adil? Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Musa a.s. Ia telah dihina lebih dari ini, tapi ia bersabar.’”

Aku berkata kepada diriku sendiri, “Aku tidak akan mengadukan sesuatu lagi kepada beliau setelah pengaduan ini.” (Muttafaq ‘alaih)

Pelajaran dari Hadits

  1. Hadits tersebut mengandung perintah untuk memberikan nasihat karena Allah dan Rasul-Nya, dan untuk kemaslahatan kaum muslimin.
  2. Memberi maaf kepada orang lain adalah sifat para nabi yang perlu diteladani.
  3. Hadits ini menjadi bukti bahwa Nabi saw. sangat bijaksana dalam melunakkan hati seseorang, dan beliau sangat lembut terhadap umatnya. Semua itu patut dicontoh oleh setiap muslim.
  4. Rasulullah saw. mencontoh sifat baik para nabi yang diutus sebelum beliau. Beliau melakukan hal itu untuk merealisasikan firman Allah, “…maka ikutilah petunjuk mereka…” (Al-An’am: 90)
  5. Rasulullah adalah manusia. Sebagaimana manusia lainnya, beliau bisa marah, dan senang.

 

19).

وعَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

وقال النبي صلى الله عليه وسلم إن عظم الجزاء مع عظم البلاء وإن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضا ومن سخط فله السخط رواه الترمذي وقال حديث حسن

Anas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya, Dia menyegerakan hukuman atas dosanya di dunia. Sedangkan jika Allah menghendaki keburukan untuk hamba-Nya, Dia menunda hukuman atas dosanya hingga hari Kiamat.”

Rasulullah juga bersabda, “Besarnya pahala berbanding lurus dengan besarnya cobaan. Jika Allah menyukai suatu kaum, niscaya Dia akan memberinya cobaan. Barangsiapa yang menerimanya, maka ia mendapat ridha Allah, dan barangsiapa yang marah terhadapnya, maka ia mendapatkan kemarahan-Nya.” (h.r. Tirmidzi. Ia berkata, “Hadits ini hasan.”)

Pelajaran dari Hadits

  1. Ujian yang dialami seseorang sesuai dengan kualitas keimanannya.
  2. Orang yang sabar saat sakit atau saat tertimpa musibah lainnya, akan diampuni dosa-dosanya.
  3. Allah akan memberikan ujian kepada hamba-Nya yang shalih. Ujian itu merupakan bukti cinta Allah kepadanya.
  4. Orang yang beriman harus ridha terhadap ujian yang dialaminya, tidak berputus asa karenanya, dan tidak marah terhadapnya.
  5. Salah satu tanda dihapuskannya dosa adalah sabar terhadap cobaan.

 

20).

وعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ يَشْتَكِي فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ فَقُبِضَ الصَّبِيُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِي قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارُوا الصَّبِيَّ فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ أَعْرَسْتُمْ اللَّيْلَةَ قَالَ نَعَمْ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا قَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ احْفَظْهُ حَتَّى تَأْتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَرْسَلَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ فَأَخَذَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَمَعَهُ شَيْءٌ قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَضَغَهَا ثُمَّ أَخَذَ مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِي فِي الصَّبِيِّ وَحَنَّكَهُ بِهِ وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ

Anas bin Malik r.a. mengisahkan, “Seorang anak Abu Thalhah sedang sakit. Ketika Abu Thalhah bepergian, anak itu meninggal dunia. Ketika pulang, Abu Thalhah bertanya kepada istrinya, ‘Bagaimana kondisi anakku?’

Ummu Sulaim r.a. menjawab, ‘Sangat tenang.’

Kemudian, Ummu Sulaim menyediakan makan malam. Abu Thalhah pun bersanggama dengannya. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata, ‘Mereka telah mengubur anak kita.’

Keesokan harinya, Abu Thalhah menemui Rasulullah Saw. untuk mengadu. Rasulullah bertanya, ‘Apakah semalam, kalian bersanggama?’

Abu Thalhah menjawab, ‘Ya.’

Rasulullah berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Ummu Sulaim.’

Selang beberapa bulan, Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki. Abu Thalhah r.a. berkata kepadaku, ‘Bawahlah bayi ini kepada Rasulullah.’ Bersama bayi itu, ia juga menitipkan beberapa butir korma kepadaku.

(Sesampai di tempat Rasulullah) Rasulullah bertanya kepadaku, ‘Apakah dia menitipkan sesuatu?’

Aku berkata, ‘Ya, beberapa butir korma.’

Nabi mengambil korma itu, memamahnya, dan menyuapkan ke mulut bayi itu. Kemudian beliau memberinya nama ‘Abdullah’.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat Bukhari disebutkan, “Ibnu Uyainah menceritakan bahwa seorang laki-laki dari kaum Anshar berkata, ‘Aku melihat sembilan anak yang menghafal Al-Qur’an. Mereka adalah anak-anak Abdullah (si bayi).’”

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia. Lalu, Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya, ‘Jangan beri tahu Abu Thalhah tentang kematian anaknya. Biar aku yang memberitahunya.’

Kemudian, Ummu Sulaim menyajikan makan malam kepada Abu Thalhah. Abu Thalhah pun makan.

Setelah itu, Ummu Sulaim berdandan dengan sangat cantiknya, sehingga Abu Thalhah ingin bersanggama dengannya.

Ketika Ummu Sulaim mengetahui bahwa Abu Thalhah telah kenyang dan telah bersanggama dengannya, ia berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu tentang suatu kaum yang meminjamkan barang kepada sebuah keluarga, lalu mereka meminta barang tersebut? Apakah keluarga itu bisa menghalangi mereka?’

Abu Thalhah menjawab, ‘Tidak bisa.’

Ummu Sulaim berkata, ‘Bersabarlah atas kematian anakmu.’

Mendengar itu, Abu Thalhah marah, dan berkata, ‘Kau biarkan aku makan lalu bersanggama denganmu. Setelah itu, baru kau beri tahu aku?’

Kemudian Abu Thalhah r.a. pergi ke tempat Rasulullah. Dia memberitahukan apa yang terjadi. Rasulullah saw. bersabda, ‘Semoga Allah memberkahi kalian, pada malam kalian berdua.’

Ummu Sulaim pun mengandung. Saat itu, Rasulullah saw. sedang bepergian. Ummu Sulaim ikut bersama Abu Thalhah.

Kebiasaan Rasulullah, apabila pulang dari bepergian, beliau tidak langsung masuk ke rumah. Demikian halnya saat itu.

Ketika sudah dekat dengan Madinah, Ummu Sulaim r.a. merasakan perutnya sakit (ingin melahirkan). Abu Thalhah menghentikan langkahnya dan menunggu istrinya, Ummu Sulaim. Sementara itu, Rasulullah melanjutkan perjalanannya ke Madinah.

Abu Thalhah berdoa, ‘Ya Tuhanku, Engkau mengetahui betapa senangnya aku bepergian bersama Rasulullah. Berangkat dan pulang bersama beliau. Namun sekarang, (ketika akan memasuki Madinah), aku tertahan sebagaimana yang Engkau lihat.’

Ummu Sulaim berkata, ‘Wahai Abu Thalhah, aku sudah tidak merasakan sakit. Teruskan perjalanan.’ Kami pun meneruskan perjalanan ke Madinah.

Ketika kami tiba di Madinah, Ummu Sulaim merasa sakit, lalu melahirkan seorang anak laki-laki.

Ibuku berkata kepadaku, ‘Anas, tidak boleh seorang pun menyusuinya hingga kau membawanya kepada Rasulullah.’

Keesokan harinya, aku membawa bayi itu kepada Rasulullah SAW.”

Pelajaran dari Hadits

  1. Hadits ini menceritakan kisah seorang istri yang bersikap dewasa dan cerdas yang patut diteladani oleh wanita muslimah.
  2. Kesabaran Ummu Sulaim ketika anaknya meninggal dunia patut diteladani oleh setiap muslimah.
  3. Berita duka harus disampaikan dengan baik dan pada waktu yang tepat.
  4. Seorang istri harus berusaha menjadikan suaminya tidak bersedih atas duka yang menimpa.
  5. Hadits ini menjadi bukti bahwa wanita muslimah pun ikut andil dalam jihad.
  6. Hadits ini juga menjadi bukti cinta para sahabat kepada Rasulullah, dan bagaimana mereka berusaha menyertai beliau, mengadukan semua permasalahan kepada beliau, dan mengharap berkah dari kebersamaan mereka dengan Nabi.
  7. Suami harus meringankan beban yang ditanggung oleh istrinya. Demikian juga sebaliknya. Keduanya harus mempercantik diri masing-masing untuk melanggengkan cinta di antara mereka.
  8. Rasulullah menunjukkan bahwa anak-anak yang dilahirkan harus diberi nama yang baik. Dan, sebaik-baiknya nama adalah Abdullah.
  9. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan kebaikan.

 

21).

وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ متفق عليه

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam gulat. Akan tetapi, orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (Muttafaq ‘alaih)

Pelajaran dari Hadits

  1. Islam memberikan paradigma kuat yang berbeda, yang dipahami kebanyakan manusia secara jahiliah, sehingga pemahaman mereka menjadi pemahaman yang mulia.
  2. Mengendalikan nafsu lebih berat daripada berperang melawan musuh.
  3. Seorang muslim harus menjauhi sifat marah, karena pengaruh negatifnya sangat besar terhadap tubuh, jiwa, dan masyarakat.

 

22).

وعَنْ سُلَيْمَانَ رضي الله عنه بْنِ صُرَدٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلَانِ يَسْتَبَّانِ فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ فَقَالُوا لَهُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ متفق عليه

Sulaiman bin Shurad r.a. berkata, “Ketika duduk bersama Nabi SAW., ada dua orang laki-laki saling mencaci di antara mereka. Wajah salah seorang dari mereka telah memerah dan urat lehernya telah membesar. Rasulullah saw. bersabda, ‘Aku mengetahui satu kalimat, seandainya dia mengucapkannya, niscaya apa yang sedang dialaminya akan sirna. Jika dia mengucapkan, ‘Audzu billaahi minasy syaithaanir rajiim’ (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk), tentu apa yang dialaminya akan sirna.”

Lalu, para sahabat berkata kepada orang tersebut, “Nabi saw. menyuruhmu berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk (membaca isti’adzah [Audzu billaahi…])” (Muttafaq ‘alaih)

Pelajaran dari Hadits

  1. Hadits ini merupakan lanjutan dari firman Allah,

”Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan Maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-A’raf: 200)

  1. Marah itu ditimbulkan oleh syetan, karena bahaya yang ditimbulkannya, baik terhadap agama maupun dunia. Maka perlu menghilangkan penyababnya, yakni bisikan syetan, dengan membaca isti’azah.
  2. Rasulullah saw. sangat peduli untuk memberikan arahan dan nasihat pada berbagai momen.
  3. Hendaknya setiap murabbi tidak bosan-bosan menyampaikan nasihat setiap ada permasalahan dan problematika.

23).

وعن مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ من الْحُورِ العين ما شَاءَ رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن

Muadz bin Anas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menahan amarahnya, padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah swt. akan memanggilnya di depan para makhluk pada hari Kiamat, lalu disuruh memilih bidadari yang dikehendaki.” (Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.”)

Pelajaran dari Hadits

  1. Anjuran untuk menahan marah.
  2. Kualitas maaf nampak ketika seseorang memiliki kekuasaan.
  3. Kuatnya kemauan dan kuatnya personal akan muncul di waktu-waktu sulit yang memancing kemarahan dan emosi. Maka seseorang dapat mengendalikan amarahnya dan menahan emosinya.

24).

وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ رواه البخاري

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah, “Nasihatilah saya.” Rasulullah saw. bersabda, “Jangan marah.” Orang itu mengulangi permintaannya beberapa kali, namun Rasulullah hanya menjawab, “Jangan marah.” (Bukhari)

Pelajaran dari Hadits

  1. Marah dapat menimbulkan kerusakan yang sangat besar.
  2. Marah adalah sifat tercela. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dapat menimbulkan kemarahan harus dijauhi.
  3. Marah yang tercela adalah marah yang terkait dengan urusan dunia. Sedangkan marah yang terpuji adalah marah untuk membela agama Allah, sebagaimana Rasulullah saw. marah ketika beliau melihat syariat Allah diinjak-injak.

 

25).

وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Cobaan tidak henti-hentinya ditimpakan kepada orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, terhadap diri, anak dan hartanya, hingga ia bertemu Allah tanpa membawa dosa sedikit pun.” (Tirmidzi. Ia berkata, “Hadits ini hasan shahih.”)

Pelajaran dari Hadits

  1. Seorang mukmin akan diuji dengan berbagai bentuk cobaan.
  2. Melalui haditsnya, Rasulullah saw. menyampaikan berita gembira kepada orang beriman yang mendapat ujian lalu bersabar. Allah berfirman, “Dan sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)

 

26).

وعن ابن عباس رضي الله عنهما قَالَ قَدِمَ عُيَيْنَةُ بْنُ حِصْنِ بْنِ حُذَيْفَةَ فَنَزَلَ عَلَى ابْنِ أَخِيهِ الْحُرِّ بْنِ قَيْسٍ وَكَانَ مِنْ النَّفَرِ الَّذِينَ يُدْنِيهِمْ عُمَرُ وَكَانَ الْقُرَّاءُ أَصْحَابَ مَجَالِسِ عُمَرَ وَمُشَاوَرَتِهِ كُهُولًا كَانُوا أَوْ شُبَّانًا فَقَالَ عُيَيْنَةُ لِابْنِ أَخِيهِ يَا ابْنَ أَخِي هَلْ لَكَ وَجْهٌ عِنْدَ هَذَا الْأَمِيرِ فَاسْتَأْذِنْ لِي عَلَيْهِ قَالَ سَأَسْتَأْذِنُ لَكَ عَلَيْهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَاسْتَأْذَنَ الْحُرُّ لِعُيَيْنَةَ فَأَذِنَ لَهُ عُمَرُ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ قَالَ هِيْ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ فَوَاللَّهِ مَا تُعْطِينَا الْجَزْلَ وَلَا تَحْكُمُ بَيْنَنَا بِالْعَدْلِ فَغَضِبَ عُمَرُ حَتَّى هَمَّ أَنْ يُوقِعَ بِهِ فَقَالَ لَهُ الْحُرُّ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذْ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنْ الْجَاهِلِينَ وَإِنَّ هَذَا مِنْ الْجَاهِلِينَ وَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلَاهَا عَلَيْهِ وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ تعالى رواه البخارى

Ibnu Abbas r.a. berkata, “Uyainah bin Hishn datang dan singgah di rumah keponakannya, Al-Hurr bin Qais. Al-Hurr termasuk orang yang dekat dengan Umar r.a. Para Qurra’ (orang-orang yang hafal Al-Qur’an), yang muda atau yang tua, adalah anggota majelis syura Umar r.a.

Uyainah berkata kepada Al-Hurr, “Hai keponakanku, kau dekat dengan Umar, mintalah kepadanya agar ia mengizinkanku bertemu dengannya.”

Al-Hurr memintakan izin, dan Umar pun memberi izin.

Ketika sudah berada di dalam ruangan Umar, Uyainah berkata, “Celakalah engkau, wahai Umar, engkau tidak memberikan kepada kami bagian yang cukup, dan tidak memberikan keputusan secara adil.”

Mendengar itu, Umar marah, hingga hendak memukulnya. Namun, Al-Hurr berkata, “Wahai Amirul mukminin, Allah swt. berfirman, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (Al-A’raaf: 199) Sedangkan orang ini termasuk orang yang bodoh.”

Demi Allah, Umar tidak berani melanggar ayat itu ketika dibacakan kepadanya. Memang, dia adalah orang yang selalu berpedoman pada Al-Qur’an.” (h.r. Bukhari)

Pelajaran dari Hadits

  1. Tingginya derajat para Qurra’ul Qur’an (para ulama yang menghafal dan mengamalkan isi Al-Qur’an), dan Qurra’ul Qur’an bukanlah orang-orang yang membaca Al-Qur’an di rumah duka atau di pesta-pesta pernikahan.
  2. Seorang pemimpin hendaknya memilih orang-orang yang baik untuk membantu tugasnya.

 

27).

وعن ابن مسعود رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ متفق عليه

Ibnu Mas’ud r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Setelah aku meninggal dunia, akan muncul sikap mementingkan diri sendiri (egois) dan perkara-perkara yang kalian ingkari.”Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau bersabda, “Tunaikanlah kewajiban kalian dan mintalah hak kalian kepada Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

Pelajaran dari Hadits

Hadits ini menjelaskan beberapa sikap yang harus dimiliki seorang mukmin, yakni sebagai berikut.

  1. Bersabar terhadap berbagai cobaan dan menerima semua ketentuan Allah.
  2. Pasrah terhadap kehendak Allah yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.
  3. Tetap taat kepada pemimpin, meskipun ia bertindak zalim. Namun, harus senantiasa diiringi dengan doa agar Allah memberinya hidayah.

 

28).

وعن أبي يحيى أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي كَمَا اسْتَعْمَلْتَ فُلَانًا قَالَ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أُثْرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ متفق عليه

Abu Yahya, Usaid bin Hudhair r.a. berkata bahwa seorang laki-laki dari kaum Anshar berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak mengangkatku sebagai pegawai, sebagaimana engkau mengangkat si fulan?”  Rasulullah saw. menjawab, “Setelah aku meninggal dunia, kalian akan menjumpai sikap mementingkan diri sendiri, maka bersabarlah hingga kaian menjumpaiku di telaga Kautsar.” (Muttafaq ‘alaih)                                                                                  

Pelajaran dari Hadits

  1. Salah satu mukjizat Nabi saw. adalah mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
  2. Meminta jabatan bukanlah perbuatan yang baik, kecuali jika tidak ada orang yang layak selain dia.
  3. Rasulullah saw. memiliki visi yang sangat baik. Beliau tidak akan mengangkat orang yang tidak memiliki kecakapan di bidangnya.
  4. Seorang mukmin hendaknya senantiasa bersabar dan tidak mengangkat orang-orang yang tidak cakap sebagai pemimpin.

 

29).

وَعَنْ أَبِي إِبْرَاهِيْمَ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِيْ أَوْفَي رَضِيَ الله عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي بَعْضِ أَيَّامِهِ الَّتِي لَقِيَ فِيهَا الْعَدُوَّ يَنْتَظِرُ حَتَّى إِذَا مَالَتْ الشَّمْسُ قَامَ فِيهِمْ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ ثُمَّ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ متفق عليه

Abu Ibrahim, Abdullah bin Abu Aufa r.a. berkata, “Di hari-hari peperangan, Rasulullah menunggu hingga matahari bergerak ke arah barat (waktu zhuhur), lalu beliau berdiri di hadapan kaum muslimin dan berkata, ‘Wahai sekalian manusia, janganlah kalian berharap bertemu dengan musuh, dan mintalah keselamatan kepada Allah. Namun, jika bertemu dengan musuh, bersabarlah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya, surga berada di bawah kilatan pedang.’

Kemudian beliau berdoa, ‘Allaahumma munzilal-kitaabi wamujriyas-sahaabi wahaazimal-ahzaabi ihzimhum wanshurnaa alaihim’ (Ya Allah, Yang menurunkan Al-Qur’an, Yang menjalankan awan, Yang mengalahkan musuh-musuh, kalahkan mereka dan berikan kemenangan kepada kami atas musuh-musuh kami.)” (Muttafaq ‘alaih)

Pelajaran dari Hadits

Hadits ini menjelaskan hal-hal berikut.

  1. Perintah untuk mempersiapkan jihad. Persiapan ini meliputi persiapan kekuatan untuk menghadapi musuh, meninggalkan maksiat, bertobat, dan berdoa kepada Allah.
  2. Ketika ditimpa kesulitan dan musibah, kita diperintahkan untuk berdoa kepada Allah.
  3. Hadits di atas menjadi bukti kasih sayang Rasulullah saw. kepada para sahabat dan umatnya.
  4. Kita dilarang mencari musuh, dan mengandalkan kekuatan materi semata.
  5. Umat Islam diperintahkan untuk bersabar, karena sabar merupakan bekal terpenting dalam jihad.

Subhan

Nama Saya Subhan. Saya asli dari Batang.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *